.:: Kumandang Imsak di Bulan Ramadhan ::.

August 7, 2009 at 6:39 am Leave a comment

    Setiap menjelang subuh pada bulan Ramadhan biasanya kita mendengar ada peringatan imsak yang dikumandangkan, baik lewat pengeras suara masjid, radio maupun televisi, pertanda waqktu sahur sudah habis. Kebudayan tersebut sudah begitu membudaya di masyarakat kita. Seakan menjadi sebuah keyakinan jika sudah dikumandangkan imsak kita tidak boleh lagi makan dan minum. Bahkan lebih ironis lagi, jika ada diantara mereka yang masih menikmati makan sahur sementara imsak dikumandangkan, dengan serta merta mereka akan memuntahkan makanan yang masih berada di mulutnya.

Mereka biasanya berdalil dengan perkataan Zaid bin Tsabit ketika ditanya oleh Anas bin Malik tentang jarak waktu antara adzan dan sahur Rasulullah saw, ia menjawab : “ kira-kira seperti lamanya membaca 50 ayat Al-Qur’an (HR. Bukhari Muslim). Padahal hadits ini bukanlah batasan terakhir untuk makan sahur, akan tetapi hanyalah penjelasan tentang kebiasaan Nabi saw menghentikan sahur, dengan kata lain masih dibenarkan untuk makan sahur kurang dari waktu tersebut. Hal ini berdasarkan firman Allah :
“ Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (Al Baqarah 187)
Berdasarkan ayat di atas maka difahami bahwa batas akhir waktu sahur adalah terbit fajar. Sedangkan terbit fajar itu ditandai dengan adzan subuh, sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut :
Dari Aisyah, bahwa Bilal mengumandangkan adzan di waktu malam (sebelum masuk waktu fajar), maka Nabi saw bersabda : “ Makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan.” (HR. Bukhari)

    Imam Nawawi menyebutkan bahwa Bilal mengumandangkan adzan sebelum terbit fajar, setelah itu dia menunggu dan mengawasi terbitnya fajar sambil berdoa dan semisalnya. Maka bila waktu telah mendekati turunnya fajar, dia turun dan memberi kabar kepada Abdullah bin Ummi Maktum akan hal tersebut. Kemudian Abdullah bin Ummi Maktum bersiap-siap dengan bewrsuci dan yang lainnya. Setelah itu dia naik dan mengumandangkan adzan bersamaan dengan terbitnya fajar.
    Dari sini jelaslah bahwa batas akhir sahur adalah masuknya waktu fajar yang ditandai dengan dikumandngkannya adzan subuh. Madzhab Hanafi, Syafi’I, Maliki, Hanbali dan jumhur Ulama dari kalangan para sahabat, tabi’in dan orang-orang setelah mereka ( tabi’ut tabi’in) sepakt bahwa waktu dimulainya shaum adalh dengan terbitnya fajar.
    Bahkan ada sebuah hadits –meski masih diperselisihkan keshahihannya- tentang masih diperbolehkannya menyelesaiakn makan dan minum meskipun adzan subuh sudah dikumandangkan ;
    “Jika salah seorang diantara kamu mendengar adzan, sedangkan piring atau gelas masih berada ditangannya, maka janganlah dia meletakkannya hingga ia menyelesaikan hajatnya.” (HR. Abu Dawud)
  • Al Hafidz Ibnu Qoyyim berkata, “ Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Al-Qathan namun ada illah (cacatnya) karena kedudukan hadits ini masykuk (masih diragukan) tentang sanadnya (bersambung atau tidak). “ Namun syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menshahihkan hadits tersebut. Beliau menyebutkan perkataan Al hakim dan menyebutkan penguat Hadits tersebut dalam kitab At-Ta’liqat Al-Jiyyad. Al Hakim berkata, “Hadits ini shahih berdasarkan syarat muslim.”
    Pernyataan ini disepakati oleh Ad-dzahabi. Dan berdasarkan hadits tersebut beliau berpendapat bahwa jika seorang mendapati fajar mulai terbit (masuk waktu subuh) sedangkan tempat makan dan minum masih berada ditangannya, maka masih diperbolehkan baginya untuk tidak meletakkannya sampai dia memenuhi hajatnya (menyelesaikan makan).
    Jadi kumandang imsak selain tidak ada contohnya dari Nabi saw juga dari para salaf shaleh, terkadang juga bisa menyebabkan seseorang meninggalkan makan sahur, padahal masih ada waktu untuk makan sahur antara imsak dengan dikumandangkannya adzan.
    Alhasil, jika kita mendengar kumandang imsak jangan lantas meninggalkan makan dan minum, karena masih ada waktu bagi kita untuk menyelesaikan makan sahur hingga terbitnya fajar. Imsak yang biasa dikumandangkan hari ini, dalam istilah rambu-rambu lalu lintas adalh lampu kuning, yang masih diperbolehkan untuk berjalan bukan lampu merah yang berarti wajib berhenti. Lampu merahnya adlah waktu fajar yang ditandai dengan dikuandangkannya adzan subuh. Itulah imsak yang sebenarnya. Ketika itulah kita harus imsak (menahan diri) dari makan, minum, berhubungan badan dan hal-hal lain yang membataklkan puasa. Wallahu a’lam bish shawab.
    (ar risalah No.87/Vol VIII/3 Sya’ban Ramadhan 1429 H)
  • baca juga : Malam Nishfu Sya’ban

    Entry filed under: BID'AH. Tags: .

    MALAM NISHFU SYA’BAN .:: Amalan utama di bulan Ramadhan ::.

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


    Archives

    Jangan Lupa Shalat Ya!

    Guest

    • 120,998 pengunjung

    Hijri Calender

    Yahoo Messenger

    Save Palestine

    More Photos

    Waiting For

    1st wedding anniversaryJune 6th, 2015
    Alhamdulillah . . . ^^

    Masukkan email anda

    Join 1 other follower

    My Location

    08564752xxxx
    Keep Istiqomah !

    Calendar

    August 2009
    M T W T F S S
    « Jul   Oct »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  

    My Profile

    arif dwi prasetyo

    arif dwi prasetyo

    I am a simple man who like the simplicity

    View Full Profile →

    Member of The Internet Defense League


    %d bloggers like this: