MALAM NISHFU SYA’BAN

August 6, 2009 at 2:51 am 1 comment

Pada malam pertengahan (nishfu) Sya’ban biasanya ada ritual khusus yang diadakan oleh sebagian kaum muslimin di beberapa masjid. Mereka membaca surat Yasin, kemudian melakukan shalat dua raka’at dengan niat agar panjang umur, lalu shalat dua raka’at dengan niat agar kaya. Kemudian setelah itu membaca doa yang panjang. Ada pula diantara mereka yang melaksanakan sholat sebanyak seratus raka’at.

bulan3
Keutamaan Bulan Sya’ban
Bulan sya’ban memang memiliki keutamaan, dimana amal shalih yang dilakukan manusia diangkat ke langit. Hal tersebut didasarkan pada sabda Rasulullah saw :
Dari Usamah bin Zaid berkata : saya bertanya, “wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau puasa disuatu bulan lebih banyak melebihi bulan Sya’ban.” Rasul saw bersabda, “Bulan tersebut banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan diangkat amal-amal kepada Rabb alam semesta. Maka saya suka amal saya diangkat sedang saya dalam kondisi puasa.” (Ahmad, Abu Dawud, An-Nasai dan Ibnu Huzaim).
Di samping itu bulan Sya’ban yang letaknya persis sebelum Ramadhan seolah menjadi fase pemanasan beribadah untuk menyambut bulan Ramadhan, yaitu untuk mempersiapkan hati atau ruhiyah. Rasululah saw mencontohkan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan Aisyah, Ia berkata :
“ Saya tidak melihat Rasulullah saw menyempurnakan puasanya kecuali di bulan Ramadhan. Dan Saya tidak melihat beliau lebih banyak puasanya dalam satu bulan kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR. Muslim)

Menyoal Derajat Hadits
Dua Hadits diatas menyebutkan tentang keutamaan bulan Sya’ban secara umum. Sedangkan keutamaan malam Nishfu Sya’ban secara khusus memang ada beberapa hadits yang menjelaskannya. Sebagian ulama menghukuminya shahih, namun kebanyakan ulama menghukuminya dhaif (lemah) bahkan ada yang maudhu’ (palsu). Menurut kebanyakan ahli hadits, Ibnu Hibban termasuk ulama’ yang mudah dalam menshahihkan hadits. Al-Qadhi Abu bakar Ibnul Arabi mengatakan bahwa tidak ada satu hadits shahih pun menyebutkan keutamaan malam Nishfu Sya’ban.

Diantara hadits yang menyebutkan tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban adalah :
Rasulullah saw pernah bersabda kepada Ali : “Wahai Ali, barangsiapa yang shalat seratus kali pada malam Nishfu Sya’ban, didalam setiap rakaat ia membaca Al Fatihah dan Al Ikhlash sepuluh kali Allah pasti akan memenuhi hajatnya.”
Hadits tersebut derajatnya lemah, Ibnul jauzi memasukkan hadits tersebut dalam kitabnya yang berjudul Al Maudhu’at (Kumpulan hadits palsu).
Hadits lain yang mereka jadikan sandaran : “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam Nishfu Sya’ban dan mengampuni lebih banyak dari jumlah bulu pada kambing Bani Kalb (salah satu kabilah yang punya banyak kambing) (HR At-Tabhrani dan Ahmad).
Imam Tirmidzi menyatakan bahwa riwayat ini di dhaifkan oleh Al-Bukhari.

Amalan Khusus
Boleh jadi dalil yang dijadikan rujukan untuk mengadakan amalan khusus pada malam Nishfu Sya’ban adalah hadits yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib secara marfu’ bahwa Rasulullah saw bersabda :
“ Bila datang malam Nishfu Sya’ban, maka bangunlah pada malamnya dan berpuasalah pada siangnya. Sesungguhnya Allah turun pada malam itu sejak terbenamnya matahari, ke langit dunia dan berkata, “Adakah orang yang minta ampun, Aku akan mengampuninya. Adakah yang minta rezki, Aku akan memberinya Rezki. Adakah orang sakit, maka Aku akan menyembuhkannya,” hingga terbit fajar.”(HR Ibnu Majah).

Namun hadits tersebut adalah dhaif. Kalau toh seandainya hadits tersebut shahih, isinya pun tidak menunjukkan bagaimana teknis untuk mengisi malam Nishfu Sya’ban tersebut. Sehingga yang menjadi pertanyaan, adakah anjuran untuk berkumpul di masjid-masjid dalam rangka mengamalkan ibadah tertentu dan membaca doa khusus? Apakah hal itu pernah dilakukan pada zaman Nabi saw dan generasi sesudahnya?
Pemandangan yang sering kita lihat sekarang ini, dimana manusia berkumpul di masjid-masjid untuk berdzikir dan berdoa khusus di malam Nishfu Sya’ban, belum kita temui di zaman Rasulullah saw maupun di zaman sahabat. Kita baru menemukannya di zaman Tabi’in, itupun hanya dilakukan beberapa orang sehinga bukan merupakan kesepakatan tabi’in ketika itu. Diantara yang melakukannya adalah Khalid bin Mi’dan dan Makhul, sehingga orang-orang menjadikan mereka panutan. Namun hal itu diingkari oleh para ulama’ lainnya, terutama ulama dari Hijaz, seperti Atha’ dan Ibnu Abi Mulaikah dan para ulama’ Malikiyah yang mengatakan bahwa hal itu bid’ah. Imam An-Nawawi, seorang ahli fiqih senior yang bermazhab syafi’i menyebutkan dalam kitabnya Al Majmu’ bahwa amalan tersebut adalah termasuk amalan bid’ah, munkar dan buruk.”
Lantas bagaimana jika dilakukan sendiri-sendiri dengan tidak berjamaah? Al Auza’i dan Ibnu Al Hafizh Ibnu Rajab berpendapat bahwa hukumnya sunah. Namun Syaikh bin Baz tidak sependapat dengan hal itu, karena segala sesuatu yang tidak ada dalil syar’inya maka tidak boleh seseorang membuat perkara baru dalam urusan agama. Baik dilakukan dengan sendiri maupun berjamaah, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.
Jika mengkhususkan suatu malam dengan suatu ibadah itu diperbolehkan maka malam jum’at tentu lebih utama daripada malam-malam lainnya, karena hari jum’at adalah Sayyidul Ayyam (hari yang paling baik). Akan tetapi dalam hadits shahih justru beliau memperingatkan umatnya agar tidak mengkhususkan malam jum’at tersebut dengan qiyamul lail. Maka tidak boleh mengkhususkan satupun malam dengan ibadah tertentu kecuali dengan dasar dalil shahih yang menunjukkan kebolehannya. Seperti pada malam-malam bulan Ramadhan, khususnya malam Lailatul Qadar. Memang pada malam-malam tersebut Rasulullah saw menganjurkan umatnya untuk melakukan Qiyamul Lail dan memperbanyak ibadah lainnya. Beliau sendiri melakukannya untuk memberikan teladan bagi umatnya.
Jika malam Nishfu Sya’ban disyariatkan pengkhususannya dengan mengadakan perkumpulan atau suatu ibadah, tentu nabi saw akan memerintahkan kepada umat ini untuk mengamalkannya dan tentu beliau yang pertama kali melakukannya. Dan jika memang hal tersebut pernah terjadi pada zaman Rasulullah saw, tentu akan dinukil oleh para sahabat untuk disampaiakan kepada umat ini. Tidak mungkin mereka akan menyembunyikannya karena mereka adalah sebaik-baik manusia dan pemberi nasehat setelah Nabi dan Allah pun telah meridhoi mereka.Wallahu a’lam.

(ar risalah No. 86/Vol. VIII/2 Rajab-Sya’ban 1429 H)

Entry filed under: BID'AH. Tags: .

.:: KEJATUHAN CICAK, Sinyal Ketiban Sial? ::. .:: Kumandang Imsak di Bulan Ramadhan ::.

1 Comment Add your own

  • 1. bejo  |  July 22, 2011 at 1:54 am

    Bagaimana kalau malam nisfu sa`ban kita kumpul kumpul di pos kamling bawa gitar nyanyi2,minum2 miras.atau ke kafe atau mungkin ke lokalisasi,baik mana ?Orang baca Qur`an kok dinilai jelek,nggak ada dasarnya juga njelek2in orang baca yasin.Yang berbuat mungkar aja dibiarin,yang baik diributin.Perintah ALLAH yang ada itu “AMAR MA`RUF NAHI MUNGKAR” nggak ada “AMAR MA`RUF NAHI BID`AH” ndak usah sok ahli hadist atau ahli ahli yang lain,jangan2 nanti jadi ahli njelekin orang,bahkan jadi ahli NERAKA.[081326715988]

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Archives

Jangan Lupa Shalat Ya!

Guest

  • 120,998 pengunjung

Hijri Calender

Yahoo Messenger

Save Palestine

More Photos

Waiting For

1st wedding anniversaryJune 6th, 2015
Alhamdulillah . . . ^^

Masukkan email anda

Join 1 other follower

My Location

08564752xxxx
Keep Istiqomah !

Calendar

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

My Profile

arif dwi prasetyo

arif dwi prasetyo

I am a simple man who like the simplicity

View Full Profile →

Member of The Internet Defense League


%d bloggers like this: