.:: Karena Cinta Kulakukan Segalanya ::.

February 12, 2013 at 8:15 pm Leave a comment

The-Power-of-loveCinta, sebuah kata sederhana tapi sarat makna. Sebuah rasa yang mampu membangkitkan semangat jiwa, membuat seseorang yang lemah menjadi kuat bertenaga.                                                         Seseorang yang sudah dilanda cinta akan rela melakukan apaun demi kekasihnya, tak peduli dengan perih dan luka yang dialami. Apapun akan dilakukan asalkan sang kekasih bahagia.

Ada sebuah cerita tentang besarnya kekuatan cinta, sebuah cerita cinta yang menggambarkan perjuangan seseorang hingga mati-matian demi menyelamatkan kekasihnya,  ……….

Di sebuah desa di kaki pegunungan yang damai terusik oleh kedatangan sekelompok perampok. Selama ini desa tersebut dikenal sebagai tempat yang aman dan tenteram. Mungkin karena hasil pertanian dan peternakan yang tersohor dari desa tersebut membuat para penjahat menyangka pasti banyak harta penduduk disana. Selain menjarah harta, para perampok juga menculik seorang bayi laki-laki. Di daerah tersebut bayi laki-laki laku dijual karena memiliki nilai tinggi sebagai budak nantinya. Para perampok melarikan bayi tersebut ke salah satu gunung yang ada di deretan pegunungan yang harus ditempuh melalui jalan yang sulit dan penuh semak belukar.

Kepala desa dan para penduduknya bertekad untuk merebut dan mengambil kembali bayi yang diculik. Harta yang dirampok biarlah berlalu dan akan tergantikan oleh panen berikutnya. Namun jika seorang bayi diculik, mereka pun bertekad harus merebutnya kembali, Maka disusunlah “panitia” kecil untuk berangkat menyusuri jalan setapak dan terjal menu gunung yang dimaksud. Mereka yakin bahwa penjahat melarikan bayi tersebut kea rah gunung tersebut. Namun belum sampai setengah dari perjalanan, mereka sudah tersesat dan kembali dengan tangan hampa. Tim kedua pun diberangkatkan dengan perbekalan pendakian yang cukup dan orang yang lebih berpengalaman. Setelah melampui setengah pendakian gunung tersebut, mereka pun kembali karena bingung dengan lebatnya hutan di sana dan banyaknya binatang buas. Cara terakhir pun ditempuh dengan melibatkan siapa saja yang mau dari penduduk desa untuk menyisir kawasan guung tersebut dan bertemu di satu titik di pertengahan gunung nantinya. Hasilnya pun nihil dan warga desa mulai putus asa untuk menemukan sang bayi.

Penduduk desa mulai mengeluh dan heran. Koq, mereka yang mati-matian mencari, sementara ibu sang bayi malah tenang-tenang saja dan tidak kelihatan? Ketika mereka putus asa dan hendak kembali ke desa, tiba-tiba dari arah atas tampaklah seorang ibu sambil menggendong bayi turun menyusuri gunung kea rah penduduk desa yang juga akan turun. Pakaian si ibu lusuh, tangan dan kakinya penuh goresan luka.

Semua penduduk desa kaget, bagaimana mungkin si ibu bisa mendaki ke puncak gunung yang notabene berat, lebat dan menyeramkan tersebut? Apalagi ia bisa mengambil kembali bayi yang diculik para perampok yang bengis. Ketika ditanya demikian, dengan tenang si ibu menjawab, “ Dia anak Saya!”.

Di dunia ini tidak ada yang melebihi kekuatan cinta (kasih) kecuali kekuatan Allah sang Pencipta. Ketika cinta sudah melanda hati seseorang, maka pengorbanan apa pun akan diberikan, bahkan nyawa sekalipun demi sebuah cinta kasih. Cinta itu sabar dan murah hati, penuh kelemahlembutan, namun tegas dalam mewujudkan kebahagiaan bagi orang lain.

Ketika seseorang diliputi cinta kasih, ia bahkan sudah tidak berfikir untuk dirinya sendiri. Baginya yang terpenting adalah  bagaimana ia bias berbuat bagi orang lain. Sebagaimana kisah cinta seorang ibu kepada anaknya di atas…

Saudaraku, lalu bagaimana cinta dan kasih kita kepada ibunda??? Apakah sebesar pengorbanan yang telah ibu berikan untuk kita??? Apakah baru sebatas cinta yang setengah hati??? Atau justru sebaliknya, kita lupa dengan cinta & kasihnya yang begitu tulus merawat dan membesarkan kita, atau bahkan kita sering menyakiti hatinya????

Rasulullah telah menjelaskan bahwa seorang ibu harus lebih didahulukan dalam kebaikan , bahkan sampai 3 kali lebih diutamakan daripada ayah. Rasulullah bersabda:

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi X : 239. al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa ibu memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan ayah)

Allah pun telah memerintahkan hambanya untuk berbakti kepada dua orang ibu-bapanya.  Firman Allah: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Q.S Luqman:14)

Begitu pula dengan Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah, beliauberkata dalam kitabnya Al-Kabaair, :

Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.

Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.

Dia telah menyusuimu  dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.

Dia cuci kotoranmu dengan tangannya, dia lebih utamakan dirimu dari pada dirinya serta makanannya.

Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.

Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk mengobatimu.

Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.

Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.

Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.

Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.

Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.

Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan.

Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.

Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.

Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.

Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.

Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.

Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.

Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakamu kepada ibumu.

Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin.

Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak, menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tak akan bisa dihitung.

Yah, kita mungkin tidak punya kapasitas untuk menghitung satu demi satu hak-hak yang dimiliki seorang ibu. Islam hanya menekankan kepada kita untuk sedapat mungkin menghormati, memuliakan dan menyucikan kedudukan sang ibu dengan melakukan hal-hal terbaik yang dapat kita lakukan, demi kebahagiannya.

So, mulai dari sekarang yuk kita perbaiki cinta kita pada ibu kita, berlaku baik dan sayang kepada beliau dan tentunya selalu mendoakan yang terbaik untuk ibunda kita…

Entry filed under: AKHLAQ, KISAH TELADAN. Tags: , , .

.:: Mewangi Di Jingga ::. .:: Nasehat Emas Imam Asy-Syafi’i ::.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Archives

Jangan Lupa Shalat Ya!

Guest

  • 50,859 pengunjung

Hijri Calender

My Twitter

Yahoo Messenger

Save Palestine

More Photos

Waiting For

Road To Solo & WonogiriMarch 8th, 2014
I'm Coming ...........

Masukkan email anda

Join 1 other follower

My Location

08564752xxxx
Keep Istiqomah !

Calendar

February 2013
M T W T F S S
« Jan   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728  

My Profile

arif dwi prasetyo

arif dwi prasetyo

I am a simple man who like the simplicity

View Full Profile →

Member of The Internet Defense League


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: