.:: The Dangerous Time ::.
December 27, 2012 at 4:57 pm Leave a comment
Saat paling berbahaya bagi akal adalah manakala pemiliknya menganggur dan tak berbuat apa-apa. Orang seperti itu ibarat mobil yang berjalan dengan kecepatan tinggi tanpa sopir, akan mudah oleng ke kanan dan ke kiri.
Sebab dalam keadaan kosong itulah pikiran akan menerawang ke mana-mana, mulai dari mengingat kegelapan masa lalu, menyesali kesialan masa kini, hingga mencemaskan kelamnya masa depan yang belum tentu akan dialami. Dan itu membuat akal pkiran tak terkendali dan mudah lepas kontrol.
Maka dari itu, mengerjakan amalan-amalan yang bermanfaat adalah lebih baik daripada terlarut dalam kekosongan yang membinasakan. Singkatnya, membiarkan diri dalam kekosongan itu sama halnya dengan bunuh diri dan merusak tubuh dengan narkoba.
Waktu kosong itu tak ubahnya dengan siksaan halus ala penjara cina, meletakkan si narapidana dibawah pipa air yang hanya dapat meneteskan air satu tetes setiap menit selama bertahun-tahun. Dan dalam masa penantian yang panjang itulah biasanya seorag napi akan menjadi stress dan gila.
Berhenti dari kesibukan itu kelengahan, dan waktu kosong adalah pencuri yang culas. Adapun akal, tak lain merupakan mangsa empuk yang siap dicabik-cabik oleh ganasnya terkaman kedua hal tadi, kelengahan dan si pencuri.
Karena itu bangkitlah sekarang juga. Kerjakan shalat, baca buku, bertasbih, mengkaji, menulis, merapikan meja kerja, merapikan kamar atau berbuatlah sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain untuk mengusir kekosongan itu! Janganlah berhenti sejenak pun dari melakukan sesuatu yang bermanfaat.
Bunuhlah setiap waktu kosong dengan pisau kesibukan! Dengan cara itu dokter-dokter dunia akan berani menjamin bahwa kebahagiaan telah mencapai 50%. Lihatlah para petani, nelayan dan para kuli bangunan! Mereka selalu ceria seperti burung-burung di alam bebas. Mereka tidak seperti yang tidur di atas ranjang empuk, tetapi selalu gelisah dan menyeka air mata kesedihan.
(adopted from: Laa Tahzan, Dr. ‘Aidh Al-Qorni)
Entry filed under: AKHLAQ. Tags: Akhlaq, Kisah Teladan.

Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed